Lynx terbang melayang di atas sekte Pedang Es, menatap ribuan pasukan musuh yang membentang sejauh mata memandang. Pedang di tangannya memancarkan cahaya biru yang berdenyut seolah hidup, seperti merasakan kegembiraan setelah ratusan tahun terkurung dalam segel sunyi. Setiap kilauannya memantul di salju yang mencair, menambah aura tak tertandingi yang menyelimuti sosoknya.

Di dalam hati, Lynx berbicara pada dirinya sendiri.

"Di satu sisi, mereka berkata ingin membalas dendam untuk kematian anak Ketua Sekte mereka. Tapi di sisi lain, mereka jelas mengincar teknik rahasia leluhur Sekte Pedang Es. Meski begitu... instingku berkata ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Ada rahasia yang belum mereka tunjukkan. Aku harus mencari tahu setelah ini."

Tatapannya menyapu satu per satu wajah para Immortal yang kini mematung, mata mereka memancarkan keterkejutan yang sulit disembunyikan. Kematian mendadak salah satu rekan mereka, yang hanya terjadi dalam satu tebasan pedangnya, meninggalkan keheningan mencekam di medan perang.

Dari barisan pihak lawan, suara bisik-bisik mulai terdengar di antara deru angin dingin.

"Plasura… apakah itu nama orang itu?"

"Dia membunuh leluhur Sekte Serigala Baja dengan satu tebasan. Kekuatannya… terlalu mengerikan. Dia pasti seorang Immortal tingkat akhir."

"Jangan-jangan dia adalah pelindung rahasia Sekte Pedang Es..."

Di sisi Sekte Pedang Es, ketegangan tak kalah terasa. Ketua Sekte Pedang Es dan leluhur Xue Yuning bergerak cepat mendekati Han Tiansheng yang masih duduk bersila memulihkan luka. Wajah mereka penuh rasa ingin tahu dan waspada.

"Leluhur, apakah kau mengenal orang itu?" tanya Ketua Sekte Pedang Es dengan suara menahan getaran.

Han Tiansheng menggeleng perlahan, sorot matanya tidak lepas dari sosok bersenjata biru di langit.

"Aku baru pertama kali melihatnya… tapi kekuatannya berada di luar jangkauan kita untuk diukur. Begitu juga dengan wanita muda itu, dia bahkan mampu melawan tiga Immortal dengan mudahnya." ujarnya lirih, sambil melirik Leena yang masih berdiri tenang dengan mata menatap langit, untuk melihat peristiwa yang akan terjadi dengan penuh keyakinan.

Xue Yuning menyipitkan mata, kemudian berbicara dengan telepati, suaranya menembus langsung ke kesadaran Han Tiansheng.

"Han Tiansheng… dunia ini sudah berubah. Lihatlah. Seorang junior yang baru saja menembus Immortal, tapi memiliki kekuatan yang bisa menindas kita semua. Aku memiliki firasat kuat… orang bernama Plasura itu adalah suami dari wanita itu."

Han Tiansheng tidak langsung menjawab, namun akhirnya mengangguk setuju. Dalam pikirannya, ia juga merasakan hal yang sama.

"Saat wanita itu terancam, sosok ini muncul seketika, dan dia menurut begitu saja ketika diperintahkan mundur. Tidak ada rasa heran, tidak ada penolakan. Mereka jelas memiliki hubungan yang erat. Dan kau perhatikan… pemuda yang sebelumnya bersama mereka, menghilang entah ke mana."

Han Tiansheng menghela napas, lalu melanjutkan dengan telepati yang lebih dalam.

"Xue Yuning… kau ingat, pemuda itu hanya berada di Forging Qi tingkat dua. Aku yakin kekuatan luar biasa ini berasal dari artefak yang ia kenakan. Pakaian hitamnya kurasa adalah artefak tingkat surgawi ditambah dengan pedang yang ada di tangannya. Aura Immortal yang kita rasakan sebagian besar berasal dari benda itu, bukan dari tubuhnya sendiri."

Matanya menatap tajam ke arah sosok bersenjata biru itu, lalu kembali pada Leena.

"Kedua orang ini bukan orang biasa. Artefak surgawi, bakat yang menembus langit, dan kemampuan menghadapi tiga Immortal tanpa kesulitan… kekuatan di balik mereka pasti menakutkan. Aku mencium keterlibatan Sekte Api Langit. Kita harus berhati-hati, jangan sampai menyinggung mereka."

Kedua leluhur Sekte Pedang Es saling berpandangan. Dalam sekejap, keputusan mereka telah bulat. Tatapan mereka yang semula penuh amarah kini dipenuhi kewaspadaan dan hormat yang terpendam. Di hadapan kekuatan yang mampu mengguncang dunia, mereka hanya bisa memilih untuk menahan diri. 

Langit senja memantulkan cahaya merah keemasan di atas medan pertempuran bersalju ketika suara berat Ketua Sekte Salju Hitam menggema. Dia berdiri di belakang para Immortal, jubahnya berkibar, mata memancarkan kebencian. Di pihaknya pertempuran baru di mulai dan mereka sudah kehilangan satu tokoh penting yang menjadi sekutu mereka."Plasura. Siapapun dirimu, kami tidak memiliki urusan denganmu. Jangan menghalangi kami menuntut pertanggungjawaban Sekte Pedang Es. Lihatlah jumlah kami. Kau tidak mungkin menghadapi kami semua," ucapnya sambil mengarahkan pedang tingkat tinggi yang memancarkan aura dingin ke arah Lynx.

TRANG!

Seketika, bunyi logam retak terdengar. Ketua Sekte Salju Hitam terhuyung, wajahnya berubah pucat."A-aduuuh..." serunya tertahan. Tangan yang memegang pedang bergetar, keringat dingin mengucur dari pelipisnya saat menatap ngeri pada pedangnya yang patah. Bilah logam itu terbelah rapi, bekas potongannya tampak hangus seolah ditempa oleh panas yang tidak terlihat.

Lynx berdiri diam di udara, matanya berkilau dingin. Dalam hati, ia tetap memilih untuk tidak menyerang secara frontal. Ia tidak ingin terlibat penuh dalam urusan internal antara pihak sekte yang saling bermusuhan ini, tetapi ia juga tidak ingin Sekte Pedang Es yang telah dimintai bantuannya menderita kehancuran. Tanpa gerakan mencolok, sinar tak kasat mata keluar dari matanya, menghantam pedang lawan tanpa seorang pun menyadarinya.

"Itu peringatan dariku," suara Lynx terdengar santai namun jelas, setiap katanya mengandung tekanan qi spiritual yang bergema di telinga semua orang. "Begitu juga kalian semua. Sekalipun kalian maju bersama, kalian tidak akan bisa mengalahkanku."

Seketika, hawa di sekitarnya berubah menekan, membuat para murid tingkat rendah yang bersembunyi di balik formasi perlindungan merasa kesulitan bernapas. Aura Lynx menembus langit, berbaur dengan dingin salju dan panas yang masih tersisa dari pertempuran sebelumnya.

Salah satu Leluhur Sekte Salju Hitam menyeringai dingin, suaranya penuh ejekan."Sombong sekali. Hanya karena berhasil membunuh satu dari kami, kau kira bisa menandingi kami semua? Jangan terlalu bangga. Kau hanya beruntung karena dia lengah dan meremehkanmu."

Gerakan seseorang yang mendekat terdengar di antara suara angin. Ketua Sekte Serigala Baja yang wajahnya masih dipenuhi kemarahan dan kesedihan melangkah mendekati Leluhur Sekte Salju Hitam, bersujud hormat."Leluhur… tolong bantu balaskan dendam kami. Leluhur kami mati di tangannya. Aku, sebagai ketua sekte, bersumpah akan memberikan harta paling berharga milik Sekte Serigala Baja sebagai imbalan untuk kepalanya!"

Mendengar itu, Leluhur Sekte Salju Hitam tertawa, suaranya bergema di udara seperti retakan es."Dengar itu, Plasura. Sekte Serigala Baja menuntut darahmu. Kau sudah membunuh leluhur mereka. Bagaimana mungkin kami melepaskanmu begitu saja?"

Aura para Immortal yang semula goyah kini perlahan berubah. Ketakutan yang sempat mengikat hati mereka mulai mengendur, tergantikan oleh rasa percaya diri yang membara. Kata-kata sang Leluhur Salju Hitam menjadi pengikat mental mereka dan menyadarkan mereka. Kematian rekan mereka bukanlah bukti kekuatan mutlak Plasura, melainkan hanya keberuntungan belaka.

Mata para Immortal mulai berkilat, napas mereka membentuk kabut tebal di udara dingin. Semua Immortal mendekat untuk bersatu menggabungkan kekuaran melawan sosok misterius di depannya. Meski mereka menganggap kematian rekan mereka adalah karena kecerobohan, namun kematiannya tetap menunjukkan sosok di depan mereka ini memiliki kekuatan nyata dan mereka harus menghadapi bersama untuk memastikan kemenangan.

 Satu per satu, mereka mulai mengangkat senjata spiritual dan memancarkan kekuatan penuh. Tanah di bawah kaki mereka retak oleh tekanan aura gabungan, langit di atas mereka bergetar menandai terbentuknya formasi pertempuran baru.

Di kejauhan, murid-murid Sekte Pedang Es yang menyaksikan adegan itu menelan ludah dengan gugup. Mereka bisa merasakan gelombang spiritual yang membesar, mengisyaratkan bahwa pertempuran yang akan terjadi bisa merobek langit dan bumi sekaligus.

Lynx tetap melayang tenang di udara, cahaya biru dari pedangnya memantulkan dingin yang menusuk jiwa. Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan karena kesombongan, tetapi karena merasa geli melihat lawan-lawannya yang baru saja yakin mereka punya kesempatan untuk menang. 

"Aku tidak punya waktu bermain-main dengan kalian. Jika ingin bertempur, majulah! Jika tidak, pergilah!" kata Lynx dengan nada dingin. Dia secara diam-diam membuat formasi untuk menambah kekuatan ilusi pakaian yang dikenakannya agar aura immortal yang di milikinya semakin meningkat.

